Penjelasan Akademik atas Validitas Metode Verifikasi Berbasis Pola Dokumen
Polemik mengenai keaslian dokumen akademik Presiden Joko Widodo kembali mengemuka setelah Universitas Gadjah Mada (UGM) menyampaikan dalam sidang Komisi Informasi Pusat bahwa mereka tidak memiliki sejumlah arsip pendukung, seperti Kartu Rencana Studi (KRS), laporan Kuliah Kerja Nyata (KKN), maupun salinan ijazah Jokowi di dalam sistem kearsipan mereka.
Kondisi ini menimbulkan pertanyaan publik mengenai bagaimana verifikasi dapat dilakukan ketika dokumen pendukung tidak lagi tersedia.
Artikel sebelumnya mengusulkan sebuah metode alternatif, yaitu verifikasi berbasis pola dokumen alumni satu angkatan, sebagai pendekatan objektif ketika arsip institusional tidak lengkap. Sejumlah kritik muncul, terutama terkait kebutuhan riset lanjutan atau perbaikan sistem kearsipan. Karena itu, artikel ini memberikan klarifikasi ilmiah mengenai dasar, logika, dan validitas metode tersebut.
- Cara Gampang Mengecek Asli Tidaknya Skripsi dan Ijazah Eks Presiden Joko Widodo
- Bagaimana UGM Menjamin Ijazah Jokowi Asli, Sementara Dokumennya Sendiri Tidak Ada?
- Klarifikasi Ilmiah: Mengapa Metode Perbandingan Dokumen Satu Angkatan Valid Ketika Arsip UGM Tidak Lengkap
1. Ketika Arsip Primer Hilang, Ilmu Kearsipan Mengalihkan Verifikasi ke Bukti Sekunder
Dalam ilmu kearsipan modern, terdapat dua tingkatan utama verifikasi dokumen:
- Verifikasi Primer: dilakukan dengan membandingkan dokumen dengan arsip resmi institusi penerbit.
- Verifikasi Sekunder: dilakukan ketika arsip primer hilang atau tidak tersedia, dengan membandingkan dokumen dengan bukti pembanding yang berasal dari periode, institusi, atau angkatan yang sama.
Dalam kasus seperti kebakaran arsip nasional Amerika (1973), hilangnya arsip universitas selama perang Balkan, atau hilangnya arsip mahasiswa di berbagai institusi Asia pada era pra-digital, verifikasi sekunder menjadi satu-satunya metode yang dapat digunakan.
Dengan demikian, perbandingan dokumen antar-alumni bukan pendekatan alternatif belaka, melainkan standar ilmiah saat bukti primer hilang.
2. Mengapa Pola Administratif Dokumen Akademik Sangat Konsisten dan Terstandardisasi
Ijazah, transkrip, dan halaman pengesahan skripsi memiliki karakteristik sebagai berikut:
- dicetak dalam format seragam pada tahun yang sama,
- menggunakan kertas, tinta, dan desain yang identik,
- ditandatangani oleh pejabat fakultas yang sama,
- memakai stempel dan nomor seri sesuai sistem administrasi waktu itu.
Konsistensi inilah yang memungkinkan auditor forensik mengidentifikasi keaslian dokumen meski tanpa arsip kampus, karena reliabilitas pola administrasi jauh lebih stabil dibanding ingatan atau testimoni lisan.
Metode ini digunakan dalam forensic document examination di Jepang, Singapura, Jerman, dan Amerika Serikat untuk memverifikasi ijazah dan dokumen publik yang arsip resminya tidak lengkap.
3. Metode Ini Objektif Karena Mengandalkan Banyak Dokumen Pembanding
Verifikasi berbasis pola dokumen bekerja melalui prinsip “multiple independent comparisons”.
Semakin banyak dokumen pembanding yang diperiksa, semakin kecil peluang adanya bias atau kesalahan.
Perbandingan puluhan hingga ratusan dokumen alumni satu angkatan akan memperlihatkan elemen-elemen berikut:
- keseragaman tanda tangan pejabat fakultas,
- template ijazah yang identik,
- tata letak halaman pengesahan,
- nomor seri yang mengikuti urutan tertentu,
- stempel fakultas yang konsisten,
- gaya bahasa baku yang digunakan UGM pada periode tersebut.
Jika dokumen seseorang cocok dengan pola umum ratusan dokumen lain, probabilitas keasliannya sangat tinggi.
Jika tidak cocok, kejanggalannya akan “sejelas cahaya siang hari” — as clear as daylight.
4. Metode Ini Digunakan Secara Internasional Ketika Institusi Penerbit Tidak Memiliki Arsip
Beberapa contoh kasus internasional:
- Veteran Administration Records Fire (AS, 1973): 80% arsip tentara hilang, verifikasi dilakukan dengan membandingkan dokumen pribadi tentara lain dari unit yang sama.
- Korea Selatan: beberapa universitas menggunakan verifikasi pola dokumen untuk audit ijazah politisi karena arsip periode 1970-an hilang akibat perpindahan gedung.
- Eropa Timur: verifikasi ijazah pejabat dilakukan dengan membandingkan dokumen alumni satu angkatan setelah arsip hancur akibat perang.
Artinya, metode ini tidak hanya valid; ini sudah menjadi praktik standar dalam forensic academic verification.
5. Kritik Bahwa “Metode Ini Bukan Solusi Sistemik” BUKAN Bantahan terhadap Validitasnya
Beberapa kritik mengarah pada konteks solusi:
- perlunya riset tambahan,
- perlunya regulasi kearsipan,
- perlunya perbaikan sistem universitas.
Semua itu benar.
Namun kritik-kritik tersebut menyasar aspek kebijakan, bukan aspek keilmiahan metode.
Metode perbandingan pola dokumen alumni:
- tetap valid,
- tetap objektif,
- tetap ilmiah,
- tetap menjadi solusi paling kuat ketika arsip resmi hilang.
Yang dikritik adalah skala solusi, bukan metodenya.
6. Kesimpulan: Metode Ini Adalah Pendekatan Forensik yang Sah, Ilmiah, dan Transparan
Dalam kondisi di mana UGM mengakui tidak memiliki:
- KRS,
- laporan KKN,
- salinan ijazah,
maka verifikasi berbasis pola dokumen alumni satu angkatan bukan hanya layak, tetapi merupakan pendekatan paling rasional, paling ilmiah, dan paling independen yang dapat diterapkan.
Metode ini menempatkan beban verifikasi pada bukti fisik yang nyata, bukan asumsi, bukan ingatan, dan bukan klaim kelembagaan.
Dengan demikian, ia memenuhi empat syarat penting verifikasi forensik:
- keterulangan,
- pembanding independen,
- pola administratif,
- transparansi publik.
Metode perbandingan dokumen alumni satu angkatan adalah cara paling kuat untuk melakukan verifikasi ketika arsip kampus tidak lagi dapat berfungsi sebagai sumber utama.