When Testosterones Kick In: Memahami Dorongan Biologis Remaja Pria Kasus WAG Mahasiswa FHUI

·

Belakangan ini, publik dihebohkan dengan kabar belasan mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Indonesia (FHUI) yang kabarnya terancam drop out akibat keterlibatan dalam grup WhatsApp chat WAG berisi konten vulgar dan pembicaraan mesum. Sebelum kita menghakimi dari podium moralitas, ada baiknya kita membedah fenomena ini dari kacamata yang lebih objektif: Biologi.

Ledakan Hormon di Usia Transisi

Tubuh pria adalah mesin biologis yang didesain secara spesifik. Memasuki usia 13 hingga 18 tahun, terjadi revolusi di dalam sistem endokrin. Kelenjar pituitari memerintahkan testis untuk memproduksi hormon Testosteron dalam jumlah masif.

Inilah yang memicu munculnya ciri seks sekunder: suara yang memberat, tumbuhnya kumis, serta bulu-bulu di area ketiak dan selangkangan. Fenomena fisik ini hanyalah “pucuk gunung es”. Di bawah permukaan, terjadi produksi sperma yang konstan dan melimpah.

Pada remaja pria, dorongan seksual (libido) bukan sekadar pilihan pikiran, melainkan desakan fisik. Sperma yang diproduksi secara berlebihan menuntut saluran. Jika tidak ada saluran fisik, maka ia akan tumpah melalui mimpi basah atau manifestasi psikologis berupa fantasi (masturbasi). Di sinilah konsumsi konten seperti video porno, manga, manha, terabox, hingga diskusi vulgar dengan teman sebaya menjadi “katup pelepas” bagi tekanan hormon tersebut.

Statistik dan Realitas yang Mengejutkan

Banyak pihak, termasuk beberapa pengguna di media sosial X, tampak terkejut atau skeptis saat disebutkan bahwa mayoritas remaja pria melakukan masturbasi. Padahal, data empiris berbicara dengan sangat gamblang.

Mengutip statistik dari Amerika Serikat (sebagaimana terlihat dalam riset yang dilakukan oleh badan kesehatan di sana), prevalensi masturbasi di kalangan remaja sangatlah tinggi. Statistik hal demikian tidak ada di Indonesia, jadi terpaksa benchmark ke ststistik Amerika Serikat:

  • Sekitar 73,8% pria melaporkan melakukan masturbasi.
  • Pada usia 14 tahun, 62,6% pria setidaknya pernah melakukannya satu kali.
  • Angka ini melonjak hingga 80% pada usia 17 tahun.
  • Remaja juga melakukan seks tapi menggunakan kontrasepsi

Di bawah ini adalah “US STATISTIC TEEN SEXUAL BEHAVIOUR

Pergeseran Realitas Seksual di Indonesia

Di Indonesia, sering kali diasumsikan bahwa faktor agama menjadi penghalang mutlak bagi seks bebas (free sex). Namun, kebutuhan biologis adalah hukum alam yang tidak bisa dinegosiasikan. Karena ketiadaan statistik nasional yang komprehensif dan dapat diandalkan mengenai perilaku seksual remaja kita, kita sering kali terpaksa melakukan benchmark pada statistik dari Amerika Serikat.

Namun, tabir itu perlahan terbuka. Jika kita melihat laporan mengenai perilaku mahasiswa di kota besar—seperti di Bandung di mana sebuah data menunjukkan sekitar 54% mahasiswa mengaku pernah melakukan hubungan seks bebas—kita tersadar bahwa realitas di Indonesia tidak jauh berbeda dengan di Amerika Serikat.

Bagi sebagian remaja yang masih memegang teguh batasan norma, masturbasi atau sekadar berbicara “jorok” di lingkaran tertutup adalah cara mereka tetap “waras” di tengah gempuran hormon tanpa harus melanggar norma susila yang lebih berat. Namun, bagi sebagian lainnya, ledakan testosteron ini sudah bermanifestasi menjadi perilaku seksual aktif.

Fakta ini memperkuat argumen bahwa apa yang terjadi pada mahasiswa FHUI—yakni obrolan vulgar di grup WhatsApp—hanyalah puncak kecil dari gunung es fenomena biologis yang masif. Mengadili mereka dengan hukuman Drop Out tanpa memahami konteks desakan hormon ini adalah sebuah kegagalan dalam memahami kodrat manusia.

Kearifan Lokal 1980: Solusi Menikah Muda

Jika kita menengok ke belakang, masyarakat desa di Tegal di tahun 1980-an memiliki cara yang sangat praktis untuk menangani “ledakan testosteron” ini. Remaja laki-laki lulus SMP (usia 15-17 tahun) sudah dianggap layak menikah.

Para sesepuh mengadopsi kearifan masa lalu—mungkin sejak zaman Majapahit—bahwa jika seorang pria sudah mimpi basah dan mampu bekerja (misalnya berdagang es kelapa muda di Jakarta), maka ia harus segera disalurkan melalui pernikahan. Saat itu, kebutuhan hidup masih sederhana; mereka tidak perlu menunggu punya rumah mewah atau pangkat tinggi untuk menikah. Menyalurkan kebutuhan biologis secara legal adalah prioritas agar tatanan sosial tetap terjaga.

Revolusi Seksual dan Pergeseran Paradigma di Barat

Berbeda dengan solusi “nikah muda” di desa, para pemikir di Barat melihat kebuntuan yang sama: remaja pria mengalami oversupply sperma, namun kondisi ekonomi modern membuat pernikahan di usia 16-20 tahun menjadi mustahil.

Tokoh-tokoh seperti Alfred Kinsey hingga Sigmund Freud berargumen bahwa penekanan (repression) terhadap hasrat seksual dapat menyebabkan neurosis atau gangguan mental. Hal inilah yang kemudian memicu gerakan revolusi seksual di tahun 1960-an. Saran mereka ekstrem: jangan larang seks bebas pada remaja, namun sediakan alat kontrasepsi. Ini adalah upaya mereka untuk menyelaraskan realitas biologi dengan tuntutan zaman.

Kasus WAG FHUI: Fenomena Hormon atau Kriminalitas?

Munculnya skandal chat mesum 16 mahasiswa FHUI sebenarnya adalah perpanjangan dari fenomena biologis ini. Membahas ciri fisik wanita, berbagi konten porno, atau berbicara vulgar dalam grup tertutup adalah perilaku yang lumrah terjadi pada pria yang sedang berada di puncak produksi testosteron.

Hal ini sering kali merupakan cara “bonding” atau pelepasan stres antar sesama pria.

Selama tidak ada:

  • unsur pemaksaan,
  • pemerkosaan,
  • atau penyebaran konten pribadi orang lain tanpa izin (doxing),

tindakan mendepak mereka dari universitas (DO) terasa seperti reaksi yang berlebihan terhadap proses alami tubuh manusia.

Tentunya tetap ada sanksi. Sanksi dapat diterapkan kepada 16 Mahasiswa FHUI misal skors 1 semester mulai semester depan atau cukup kerja sosial atau disuruh menghapal kitab suci / kidung suci kalau baca di Fizzo App, Novel Drama Cina.

Siklus Hidup dan “Kesepian” Pria

Terus terang, saya terkejut melihat skeptisisme di X.com terhadap klaim bahwa mayoritas pemuda melakukan masturbasi. Realitasnya, di tengah keterbatasan akses menuju pernikahan dini seperti di zaman dulu, masturbasi menjadi “katup pengaman” logis di usia 16–25 tahun.

Namun, kita harus jeli melihat siklus usia. Mengutip lirik lagu Longview 1994 dari Green Day, “When masturbation’s lost its fun, you’re fuckin’ lonely,” ada garis tegas yang memisahkan fase hidup.

Bagi mahasiswa usia 20-an, gejolak melakukan masturbasi ini adalah murni ledakan testosteron. Namun, jika seorang pria sudah menginjak usia matang 30, 40, hingga 50 tahun dan sudah berkeluarga tetapi masih terjebak dalam perilaku yang sama, maka ia tidak lagi sedang berurusan dengan hormon, melainkan sedang menghadapi puncak kesepian yang menyedihkan.

Oleh karena itu, mari kita tempatkan kasus mahasiswa ini pada porsinya: sebuah ledakan masa muda yang butuh edukasi, bukan eksekusi mati bagi masa depan mereka.

I got no motivation
Where is my motivation?
No time for the motivation
Smoking my inspiration

Sit around and watch the phone, but no one’s calling
Call me pathetic, call me what you will
My mother says to get a job
But she don’t like the one she’s got
When masturbation’s lost its fun
You’re fucking lonely

end.

Penulis:

  • “Pak Tua” Alumni FMIPA UI @ 1992

Referensi terkait free sex (revolusi seksual di Amerika Serikat)

Dari GEMINI AI:

Sebenarnya, tidak ada satu nama psikolog tunggal yang menjadi penentu legalitas gaya hidup bebas atau hidup bersama tanpa pernikahan (cohabitation) di AS dan Eropa. Pergeseran tersebut lebih merupakan hasil dari revolusi seksual pada tahun 1960-an dan 1970-an yang dipengaruhi oleh berbagai pemikir dari berbagai bidang.

Namun, jika Anda mengingat sosok yang memberikan “dasar ilmiah” atau saran terkait kebebasan seksual, kemungkinan besar yang Anda maksud adalah salah satu dari tokoh berikut:

1. Alfred Kinsey (Paling Mungkin)

Meskipun beliau adalah seorang ahli biologi/entomologi, laporannya yang terkenal (Kinsey Reports) pada tahun 1948 dan 1953 sangat mengguncang dunia medis dan psikologi.

  • Argumennya: Ia menunjukkan bahwa perilaku seksual manusia jauh lebih beragam daripada yang diakui norma agama atau hukum saat itu.
  • Dampaknya: Data Kinsey sering dijadikan dasar oleh para aktivis dan pembuat kebijakan untuk berargumen bahwa hukum yang mengekang kebebasan seksual tidak realistis dan tidak sehat secara psikologis.

2. Sigmund Freud

Bapak Psikoanalisis ini jauh sebelumnya sudah berteori tentang pentingnya dorongan seksual (libido).

  • Argumennya: Freud berpendapat bahwa represi (penekanan) terhadap hasrat seksual dapat menyebabkan neurosis atau gangguan mental.
  • Dampaknya: Pandangan ini sering “dipelintir” atau disederhanakan oleh masyarakat umum di Barat untuk melegitimasi kebebasan ekspresi seksual sebagai cara menjaga kesehatan mental.

3. Wilhelm Reich

Seorang psikoanalis radikal yang menciptakan istilah “Revolusi Seksual”.

  • Argumennya: Ia percaya bahwa pembebasan seksual adalah kunci menuju pembebasan politik dan sosial. Reich berpendapat bahwa keluarga tradisional yang kaku adalah alat penindasan.

4. Herbert Marcuse

Seorang filsuf dan sosiolog (Frankfurt School) yang sangat berpengaruh pada gerakan mahasiswa tahun 60-an di Barat.

  • Argumennya: Dalam bukunya Eros and Civilization, ia menyarankan bahwa masyarakat harus melepaskan represi seksual untuk mencapai kebahagiaan sejati.

Catatan Tambahan dari GEMINI AI: Perlu diluruskan bahwa secara hukum, negara-negara Barat tidak secara spesifik membuat undang-undang untuk “melegalkan free sex”, melainkan mereka menghapus hukuman (dekriminalisasi) terhadap perzinaan (adultery) dan memfasilitasi hak-hak sipil bagi pasangan yang tidak menikah (seperti Civil Partnership).

Visited 60 times, 1 visit(s) today