Sebuah Kisah: Warung Desa Merah Putih di Kerajaan Majapahit

·

Ghailan IRGH of SEJARAHID.com presents: “Sebuah Kisah: Warung Desa Merah Putih di Kerajaan Majapahit”,  Jakarta, 03.03.2026.

Disclaimer Notice: “Seluruh karakter, tempat, dan kejadian dalam naskah ini adalah fiktif. Jika ada kesamaan nama tokoh atau peristiwa, hal tersebut adalah kebetulan belaka. Kisah ini digunakan untuk tujuan edukasi & komedi satire politik di Kerajaan Majapahit, terutama di Metro Trowulan.”

Tumenggung Kopdes: “Begini, Para Kawula, sesuai Titah Maharaja Nomor 17 warsa Ular Kayu, biar gak ribet, nanti saya yang mewakili kalian semua  — Pak Kades, Tuan Demang dan Tuan Bupati—untuk tanda tangan Prasasti Prajanji dengan Punggawa Mandala Agrinas. Beres, kan?” Begitu ya Tuan Punggawa?

Punggawa Mandala Agrinas : “Betul Tuan Tumenggung Kopdes, semua Sabda Pandita Ratu, itu adalah kehendak Dewa dan suara rakyat.”

Demang & Bupati: “Sendiko, Ndoro! Laksanakan, Ndan!” (*dalam hati* kayaknya bisa dapat sekarung dua karung kepeng dari terkait tanah perdikan, mumpung belum ada yang tahu.)

Kades: (garuk-garuk kepala) “Nganu, Tuan Tumenggung Kopdes …  Mohon izin, saya ini kan secara pangkat under supervision Tumenggung Desa. Apa tidak gegabah, kalau Gusti Tumenggung Kopdes yang mewakili saya?”

Tumenggung Kopdes: “Halah! Kowe ngerti opo! Tumenggung Desa itu sudah setuju. Beliau sudah membuat Sasaning Tumenggung Desa 16 warsa Ular Kayu yang mengatur alokasi Dana Desa untuk Warung Desa Merah Putih. Edian, ini no limit! Bebas dialokasikan berapa saja buat gedung! Wis Kowe, Pak Kades manut saja!”

Kades: (kaget, kaget) “Lhadalah! Jadi itu maksudnya tidak ada batas maksimal? Dana Desa saya bisa habis dong cuma buat cicilan utang batu bata Pendopo Warung Desa Merah Putih? Kenapa tidak sewa warung saja seperti Alfa Marto dan Indo Marto? Kan lebih murah bayarnya, Tuan Temenggung Kopdes

Rakryan Kanuruhan Purbaya: (ikut nimbrung) “Begini ya Pak Kades, efisiensi itu bukan pilihan, tapi mandatory. Dana Desa Anda sudah saya kunci di posisi standby di tingkat hulu. Lebih baik siapkan mitigasi fiskal mandiri karena mulai bulan depan, sistem saya akan melakukan auto-debet secara agregat untuk penyelesaian kewajiban di Mandala Artha Himbara.”

Kades: “Wadhuh biyung… Ndoro, nyuwun tulung! Dana Desa bakal habis cuma buat bayar cicilan batu bata Pendopo Warung Desa Merah Putih. Mulai dari BLT kemiskinan ekstrem, ketahanan pangan, hingga infrastruktur padat karya— akan terganggu bahkan macet total! Uwasu! Apes Tenan!”

Tumenggung Kopdes: “Lho, soal warga makan apa ya tanya ke Tumenggung Desa dong! Kan itu urusan dia.”

Tumenggung Desa: (Muncul sambil garuk kepala, terlihat bingung) “Eh, anu… gimana ya? Coba nanti saya koordinasi dulu ya sama Gusti Maharaja  … (suara mengecil).

Kades: Tuan Tumenggung Kopdes, nyuwun sewu, nanti  Warung Desa Merah Putih bisa diberikan Mandate of Distributionlewat Titah Maharaja  tidak?

Tumenggung Kopdes: Maksud Pak Kades opo iki?

Kades: “Begini, supaya Warung Desa bisa omzet miliaran per hari, Gusti Maharaja wajib menerbitkan Titah Maharaja  tentang Mandate of  Distributionbahwasemua proyek nasional wajib membeli semen ke Warung Desa Merah Putih terdekat. Terus, bisa juga semua Petani wajib beli pupuk ke Warung Desa Merah Putih.”

Tumenggung Kopdes: (ketawa) Weleh-weleh,  Petani ya bebas beli pupuk dimana saja yang harga murah, Piye Jal!”

Kades: “Nyuwun sewu, jelas tidak bisa, melalui Titah Maharaja  tersebut Pupuk hanya dijual di Warung Desa Merah Putih. Selain itu ilegal. Baik yang jual dan mungkin juga yang beli bisa ditangkap oleh Detasemen Bhayangkari Kerajaan sebagai tindakan kriminal penimbunan barang.”

Semua Tumenggung: “Bisa kayak begitu ya? Kamu tahu dari mana Pak Kades?”

Kades: “Saya baca online di media SEJARAHID.com”  … *promo*

Sesama Kades: (Bisik-bisik di barisan belakang) “Kisanak, ini mah Warung Desa Merah Putih bisa zonk kalau tidak ada Titah Maharaja tentang  Mandate of Distribution! Dana Desa kita mana cukup  buat kegiatan bulanan. Pendoponya megah, tapi saldo SISKEUDES bisa cuma buat bayar biaya admin Mandala Artha Himbara!”

Gusti Maharaja: (Naik ke atas Sitihinggil diiringi suara Terompet Sangkakala dan Gamelan Lokananta) “Hai, Antek-Antek Asing! Kalian pasti tidak suka melihat Warung Desa Merah Putih berdiri tegak bersama Maharaja Semar dan Patih Gareng! Kalian takut ya melihat ekonomi desa bangkit dengan armada pickup 4×4 buatan India?”

Kades: (Celingak-celinguk) “Bukan masalah antek asingnya, Sembah bakti Gusti Maharaja Semar, masalahnya kalau besok besok saya ditagih BLT sama warga, saldonya tidak cukup”

Carik Pengalasan ke Bunda Corla: “Cepetan maju nanyi!”

Bunda Corla: (Maju ke depan panggung, musik on) “No Comment! Itu derita lu. Masa bodoh, tidak mau tahu!”

Fufufafa: (tiba-tiba muncul dari sebuah forum underground masa lalu) “Dari pada pusing, Pak Kades dan APDESI ikut saya.

Mereka mendaki Gunung Semeru. Pas nyampe di Puncak, Pak Kades mengibarkan bendera putih putih. Akhirnya Fufufafa menggelinding ke bawah seperti seekor landak, pas nyampe di bawah, dia langsung membeli jagung bakar.

*Salam Merah Putih*

Visited 15 times, 1 visit(s) today