Penulis: Ghailan IRGH
1. Horor Ken Arok: Alasan Elite Jawa Takut pada Kudeta Jalanan
Untuk memahami mengapa sebuah negara merasa perlu menciptakan “hantu” di laut dalam, kita harus melihat rapuhnya fisik seorang penguasa manusia. Pada tahun 1222, seorang pria biasa dari Jawa Timur—seorang bandit, rakyat jelata, dan kuli bernama Arok (1182–1227)—menghancurkan total ilusi bahwa raja adalah makhluk suci yang tak tersentuh. Berbekal sebilah keris terkutuk dan ambisi berdarah yang dingin, ia membunuh Tunggul Ametung, penguasa Tumapel. Ken Arok tidak hanya merebut takhta untuk bertakhta sebagai Sri Rajasa Bhatara Sang Amurwabhumi, tetapi juga mengklaim istri sang mantan raja yang luar biasa cantik, Ken Dedes.
Dalam konteks realisme Jawa abad ke-13, itu adalah potret masyarakat yang telanjang dan kasar. Kekuasaan itu sangat visual, instan, dan sama sekali tidak dilindungi oleh kamuflase institusional. Coup d’état Ken Arok yang sukses mengirimkan pesan mengerikan kepada aristokrasi Jawa: jika seorang bandit jalanan bisa membuat raja berdarah, maka setiap petani bisa menghancurkan sebuah dinasti. Bagi keluarga kerajaan yang lahir setelah era itu, lembaran sejarah ini adalah mimpi buruk tertinggi—sebuah celah kerentanan fatal yang tidak boleh terulang kembali.
2. Nyi Roro Kidul: Memindahkan Ancaman ke Samudra (1586)
Ketika Panembahan Senopati mendirikan Kesultanan Mataram Islam pada tahun 1586, cetak biru kekuasaan kuno yang rentan itu dibongkar total. Istana menyadari bahwa tembok benteng yang tebal dan pasukan reguler saja tidak akan pernah cukup untuk menghentikan “Ken Arok” berikutnya. Dari sudut pandang psikologi politik, struktur kekuasaan ini tampaknya bergeser ke arah mistisisme untuk menciptakan kepatuhan domestik. Negara secara bertahap mengadopsi sebuah aturan psikologis yang brilian: massa tidak takut pada apa pun melebihi ketakutan mereka terhadap apa yang tidak bisa mereka lihat.
Inilah awal lahirnya narasi Nyi Roro Kidul yang digenjot secara masif oleh propaganda istana. Cetak biru psikologis dari taktik ini sebenarnya pernah saya bedah dalam buku yang saya tulis “Salah Paham tentang Setan, Jin, Roh, Hantu, dan Sihir” (terbit Maret 2004, lebih dari 20 tahun yang lalu!). Di sana dipaparkan bagaimana ilusi sensorik, anomali pergeseran medan elektromagnetik alam yang janggal, serta mistisisme yang disokong penuh oleh instrumen negara dapat dikooptasi dan dipersenjatai (weaponized) sepanjang sejarah untuk mengendalikan, mengarahkan, dan mendikte perilaku massa dalam skala besar.
Dalam konteks Mataram, doktrin spesifik disuntikkan ke benak publik: bahwa penguasa berdaulat bukan sekadar pemimpin politik fana, melainkan secara spiritual terikat dalam pernikahan suci dengan Ratu supranatural Samudra Hindia yang mengerikan.
Seketika, arus liar, ombak ganas, dan atmosfer mencekam dari Samudra Selatan berubah fungsi menjadi aparat penegak hukum gaib milik negara. Sastrawan besar Pramoedya Ananta Toer, senada dengan para pengamat sejarah awal dari Belanda, mencatat betapa para administrator Barat kerap dibuat bingung oleh betapa mudahnya raja-raja Jawa mempertahankan kendali absolut atas wilayah yang begitu luas. Mereka tidak membutuhkan pasukan berdiri (standing army) yang raksasa dan mahal, atau aparat kepolisian yang agresif di setiap desa.
Ketakutan itu tegak secara mandiri di kepala rakyat (self-enforced fear). Pemberontakan publik menjadi kemustahilan spiritual. Menggulingkan Raja bukan lagi urusan melawan manusia fana, melainkan menyatakan perang terhadap dewa supranatural penguasa laut dalam.
Untuk mengunci sekat sosial ini agar semakin permanen, lakon satir seperti Petruk Dadi Ratu sengaja disusupkan ke dalam tradisi Wayang Kulit. Pesan kepada rakyat jelata sangat lugas dan mengejek: Kamu itu cuma punakawan, cuma petani. Kamu tidak punya darah spiritual raja. Jangan pernah bermimpi menyentuh mahkota.
Karena stabilitas domestik sudah “dijaga” oleh rasa takut gaib hasil rekayasa sensorik dan psikologis ini, para elite Jawa merasa aman di zona nyaman. Kondisi ini diduga kuat ikut berkontribusi secara tidak langsung terhadap pengabaian lini pertahanan luar. Mereka merasa tidak perlu mengalokasikan anggaran besar untuk memperbarui doktrin militer berskala besar atau mengikuti perkembangan teknologi senjata yang jauh lebih modern, lebih kuat, dan lebih mematikan. Akibatnya, tumpukan kekayaan hasil bumi mereka tidak berputar menjadi industri pertahanan modern yang adaptif, melainkan mengendap pasif begitu saja di gudang-gudang bullion vault bawah tanah istana—menjadi tumpukan harta karun tak bertuan yang seakan siap dipanen oleh kekuatan asing yang memiliki keunggulan militer.
3. Lumbung Emas Asia Tenggara yang Kaya Raya (Multicurrency Era & Financial Intelligence Leak)

Efek samping dari stabilitas mistis-politik ini memang membuat ekonomi Mataram melejit luar biasa sepanjang abad ke-17 hingga ke-18 (tahun 1600–1700). Tanpa gangguan perang saudara yang berarti di jantung kerajaan, Mataram berkembang menjadi raksasa ekspor terpandang di Asia Tenggara.
Jutaan ton beras mengalir dari sawah-sawah subur Jawa untuk menyuplai komoditas pangan ke berbagai kota pelabuhan Nusantara, bahkan menjadi pilar ketahanan pangan di jalur maritim Asia. Kayu jati berkualitas tinggi dari hutan-hutan Jawa ditebang dan diekspor untuk menjadi bahan baku utama galangan kapal dagang internasional di galangan-galangan kapal India hingga Asia Timur. Lebih dari itu, Mataram menjadi produsen utama gula tebu dan rempah-rempah sekunder yang sangat diburu oleh para pedagang global, menembus pasar-pasar besar di India Barat hingga daratan kekaisaran China.
Bagi generasi kelahiran 1960-an hingga 1970-an yang pernah membaca komik legendaris Donald Bebek, Anda pasti ingat bagaimana Paman Gober (Scrooge McDuck) memperlakukan kekayaannya. Ia memiliki Money Bin—sebuah gudang penimbunan raksasa (bullion vault) berisi tumpukan uang dan emas murni yang menggunung. Paman Gober bahkan tidak tidur di atas kasur empuk, melainkan melompat, berenang, dan tidur langsung di atas tumpukan logam mulia tersebut.
Kira-kira, visualisasi fantastis itulah yang merefleksikan isi gudang harta Raja Mataram dengan kekayaan senilai triliunan rupiah (jika dikonversi ke nilai modern). Mengingat pada era tersebut belum ada institusi perbankan modern, sistem tata kelola keuangan negara diatur secara mandiri oleh pihak istana melalui jaringan multicurrency internasional yang sangat maju:
- Koin Kepeng (Cash) China: Untuk transaksi harian di pasar lokal rakyat Mataram.
- Real Perak Spanyol (Pieces of Eight): “US Dollar” zaman kuno yang menjadi standar pembayaran pajak dan perdagangan internasional.
- Emas Global & Nusantara: Koin Dinar serta batangan emas murni yang mengalir ke kantong para bangsawan.
Secara psikologis, Sultan Jawa memiliki preferensi keamanan yang sangat spesifik. Mereka jauh lebih percaya untuk memusatkan dan mengunci seluruh kekayaan cair tersebut di satu tempat: gudang harta bawah tanah di dalam kompleks istana pusat kekuasaan, daripada menyembunyikannya secara terpencar di area pegunungan atau wilayah pesisir dekat laut.
Namun, di sinilah letak titik buta (blind spot) pertahanan mereka. Likuiditas raksasa yang menumpuk di satu titik ini terendus sempurna oleh radar intelijen Barat. Raffles tidak datang dengan berspekulasi buta. Berdasarkan analisis peta politik saat itu, terdapat indikasi kuat bahwa melalui jaringan informasi yang sistematis, Raffles telah berhasil memetakan taksiran volume kekayaan emas para raja Jawa (termasuk raja-raja Sumatra).
Indikasi kebocoran data finansial ini mengalir ke tangan Inggris melalui kombinasi informasi dari jaringan lokal, interogasi mantan perwira (officer) VOC yang mengetahui jalur upeti, laporan pedagang perantara, hingga bisikan dari para rival politik raja yang mencari suaka ke pihak Inggris. Istana boleh saja merasa aman karena berhasil menakut-nakuti rakyat dengan mitos Nyi Roro Kidul, namun mereka tidak sadar bahwa isi “brankas” bawah tanah mereka telah menjadi variabel kalkulasi dalam strategi militer tentara Inggris sebelum operasi dijalankan.
4. Badai Inggris Menghancurkan Hegemoni Prancis-Belanda
Namun, lanskap geopolitik dunia berubah drastis memasuki abad ke-19. Revolusi Industri di Eropa melahirkan kekuatan baru bernama Britania Raya dengan efisiensi militer yang mematikan. Ketika Thomas Stamford Raffles tiba di Nusantara, superioritas militer Inggris sudah berada di level yang berbeda.
Hanya dalam hitungan hari, Raffles berhasil menghancurkan dominasi pasukan gabungan Prancis-Belanda di bawah pimpinan Gubernur Jenderal Jan Willem Janssens. Dipimpin oleh jenderal-jenderal taktis bertangan besi, pasukan Inggris menguasai pertahanan Batavia (Jakarta) hanya dalam hitungan hari, sebelum bergerak cepat menguasai Istana Bogor tanpa perlawanan berarti. Tentara kolonial yang selama ini ditakuti oleh pribumi mendadak terlihat linglung dan kocar-kacir di hadapan disiplin militer infanteri Inggris.
5. Keangkuhan Mataram Menghadapi Strategi Militer Modern
Melihat kejatuhan cepat pertahanan kolonial, beberapa penguasa lokal langsung mengambil langkah realistis. Sultan Mahmud Badaruddin II dari Palembang secara cerdik langsung melakukan strategi bumi hangus pada istananya sendiri dan kabur ke dalam hutan pedalaman untuk menggalang gerilya panjang. Sementara itu, Sunan Surakarta memilih jalan diplomasi pragmatis dan langsung menyatakan menyerah demi menyelamatkan dinastinya dari kehancuran total.
Namun, Yogyakarta—sebagai ahli waris utama trah Mataram—memilih jalan keras kepala. Terbuai oleh mitos kebesaran masa lalu, proteksi psikologis Laut Selatan, dan jumlah pasukan tradisional yang mencapai puluhan ribu, mereka merasa yakin mampu membendung laju British Empire.
Konfrontasi bersenjata tidak terhindarkan. Hasilnya sangat brutal dan memilukan. Hanya dalam hitungan jam setelah artileri Inggris ditembakkan menembus benteng tanah, pertahanan legendaris Mataram runtuh. Senjata tradisional dan taktik kuno sama sekali bukan tandingan bagi taktik siegetrain modern.
6. Tragedi Geger Sepehi: Penjarahan Senilai IDR2 Triliun
Kejatuhan tragis ini dicatat dengan tinta darah dan air mata dalam lembaran sejarah Jawa sebagai peristiwa Geger Sepehi (The Sack of Yogyakarta). Peristiwa yang berlangsung pada 19–20 Juni 1812 ini sama sekali bukan penaklukan politik biasa. Ini adalah aksi penundukan ekonomi (economic decimation) dan pembersihan kebudayaan struktural yang dieksekusi secara masif dan dingin.
Dalam serangan kilat tersebut, pasukan Inggris di bawah komando Letnan Gubernur Thomas Stamford Raffles dan Kolonel Robert Rollo Gillespie merangsek masuk, menjebol benteng, dan menjarah secara brutal Kraton Yogyakarta selaku negara penerus utama dari imperium Mataram.
Inggris secara sistematis menelanjangi seluruh kekayaan kedaulatan (sovereign treasure) yang tertimbun di dalam istana:
- Emas Batangan: Pasukan Inggris mengeruk sekitar 350 kilogram emas murni dari ruang rahasia bawah tanah.
- Mata Uang Global: Sebanyak 800.000 koin perak Spanyol (Spanish silver dollars) disita sebagai rampasan perang.
- Prize Money Korporasi: Begitu liarnya penjarahan ini, Kolonel Gillespie secara pribadi langsung mengantongi 74.000 koin perak sebagai bonus pribadi (prize money) di luar jatah resmi para perwira lapangan.
Jika dihitung menggunakan metode valuasi komoditas modern hari ini, kekayaan likuid berupa logam mulia cair yang disita dari jantung tanah Jawa tersebut bernilai sangat fantastis: lebih dari $55 Juta USD, atau setara dengan hampir IDR2 Triliun.
Ironisnya, angka triliunan rupiah ini baru menghitung nilai intrinsik dari berat mentah emas dan peraknya saja. Likuiditas raksasa ini sama sekali belum mencakup kerugian atas rontoknya aset intelektual kerajaan: ribuan manuskrip kuno, babad, dokumen kronik sejarah, perpustakaan intelektual, regalia suci, hingga benda pusaka berhias permata yang dicepak ke dalam peti-peti kayu, dimuat ke atas kapal Inggris, lalu dibawa pergi melintasi samudra. Kas kerajaan dikuras habis dalam hitungan hari, menyisakan Mataram yang bangkrut secara finansial dan lumpuh secara kultural.
7. Parade Kehinaan: Sang Penguasa Tanpa Mahkota
Penghinaan terhadap dinasti Mataram mencapai puncaknya pada siang hari pasca-benteng istana runtuh. Sri Sultan Hamengkubuwono II (Sultan Sepuh) harus menerima kenyataan pahit digelandang keluar dari pintu gerbang Kraton oleh tentara Inggris.
Bagi masyarakat Jawa saat itu, ini adalah pemandangan yang meruntuhkan nalar dan mencabik-cabik martabat kedewaan mereka. Selama bertahun-tahun, Sultan adalah sosok suci yang dianggap sebagai poros alam semesta. Beliau adalah manusia paling terhormat di mana setiap kali melangkah, para menteri, patih, pangeran, hingga rakyat jelata wajib melakukan sembah jongkok, menundukkan kepala rapat ke tanah, dan sama sekali tidak berani menatap langsung wajahnya demi menjaga kesakralan sang raja.
Namun, siang itu, seluruh protokoler kesucian tersebut menguap seketika di ujung bayonet. Sang Sultan dipaksa berjalan kaki di bawah terik matahari yang menyengat menuju tempat penahanan sementara di Semarang, sebelum akhirnya dibuang ke pengasingan.
Tidak ada lagi kereta kencana berlapis emas. Tidak ada lagi dayang-dayang pembawa payung agung kerajaan. Sang raja—yang biasanya disembah layaknya titisan dewa di atas singgasana—kini berjalan tanpa sepatu maupun sandal istana, tanpa untaian emas simbol kebesaran, dan tanpa mahkota di kepalanya. Beliau hanya mengenakan baju kain biasa yang kusut, melangkah tertatih menembus debu jalanan dengan dikawal ketat oleh barisan serdadu asing berkemeja merah (Redcoats).
Di sepanjang pelataran luar istana hingga rute jalanan menuju Semarang, parade kehinaan ini dikepung oleh tatapan mata yang basah. Jajaran menteri, patih, pangeran, serta para abdi dalem dan rakyat setia yang berkerumun di pinggir jalan hanya bisa bersujud lemas di atas tanah. Meskipun junjungan mereka telah ditelanjangi dari segala simbol kekuasaan fisik, kesetiaan batin mereka tidak luntur; mereka menyaksikan pemandangan tabu tersebut dalam balutan tangis senyap yang histeris, meratapi hilangnya kedaulatan tanah Jawa yang runtuh seketika. Bagi para abdi dan rakyat yang setia ini, runtuhnya fisik istana dan digelandangnya sang Sultan bukan sekadar kekalahan perang biasa, melainkan sebuah kiamat kosmis di mana pusat kesucian dunia mereka telah diinjak-injak oleh sepatu laras pasukan asing.
Eksperimen kekuasaan berbasis ilusi mistis dan penimbunan harta pasif yang dibangun selama dua abad, pecah berantakan dalam hitungan jam. Raja yang sehari sebelumnya berada di puncak hierarki suci, siang itu dievakuasi sebagai tawanan perang yang kehilangan segala-galanya, menyisakan sebuah pelajaran sejarah yang amat mahal: bahwa kehormatan, kepatuhan mutlak, dan penyembahan domestik dari rakyat sendiri tidak akan pernah bisa membeli keselamatan dari serbuan militer global yang nyata.
8. Kelalaian Tragis Sang Raja Jawa
Tragedi Geger Sepehi menyisakan sebuah otopsi sejarah yang sangat pahit mengenai manajemen risiko sebuah bangsa. Bayangkan Anda menjadi pemimpin sebuah dinasti yang duduk di atas tumpukan kekayaan senilai Rp2 Triliun, namun kekayaan raksasa itu hanya disimpan secara pasif di dalam ruang bawah tanah pelataran istana.
Kerajaan Jawa saat itu mengalami kelalaian fatal (gross negligence). Akibat terlalu percaya diri dengan sistem keamanan “Nyi Roro Kidul” yang berhasil menjinakkan rakyatnya sendiri selama dua abad, struktur komando tertinggi kerajaan kemungkinan besar terbuai dan abai melihat pergeseran taktis dunia luar yang sudah berubah radikal. Masalahnya bukan karena Mataram tidak berinvestasi pada militer sama sekali, melainkan karena investasi tersebut mandek pada pola tradisional dan sama sekali tidak mengikuti perkembangan modernisasi senjata yang jauh lebih merusak dan efisien. Dengan likuiditas sebesar itu, Mataram tidak menginvestasikan kekayaannya untuk membangun institusi pendidikan modern, tidak mendanai riset sains, tidak mendirikan pabrik senjata berskala industri mutakhir, dan tidak memperbarui doktrin militer mereka agar adaptif dengan kemajuan zaman.
Mereka terlalu sibuk merawat tradisi lama, menumpuk emas batangan, dan mengandalkan proteksi psikologis berbasis mistisisme untuk menakut-nakuti rakyatnya sendiri. Ketika peradaban luar datang membawa teknologi bubuk mesiu, taktik artileri canggih, dan manajemen konflik modern, “saldo rekening” triliunan rupiah di dalam istana tersebut berubah fungsi dalam semalam: bukan lagi sebagai jaminan kedaulatan, melainkan hanya menjadi magnet penjarahan bagi bangsa asing. Kekayaan tanpa kekuatan pertahanan modern hanyalah rezeki nomplok yang sedang menunggu giliran untuk dirampas.
(akhir)
Sumber Referensi:
Hannigan, Tim. (2010). Raffles and the British Invasion of Java. Singapore: Monsoon Books. (Terkait data taktis pergerakan militer Inggris, keruntuhan pasukan kolonial Janssens, serta perincian nilai penjarahan finansial Geger Sepehi).
Ghailan, IRGH. (2004). Salah Paham tentang Setan, Jin, Roh, Hantu, dan Sihir. Jakarta. (Terkait analisis psikologi-politik rekayasa sensorik narasi Nyi Roro Kidul).
