Sepak Terjang Hashim Djojohadikusumo yang “Ruar Biasa”

·

Di balik panggung kekuasaan yang kini dipegang oleh Presiden Prabowo Subianto (2024-2029), ada satu sosok yang bergerak senyap namun memiliki daya gedor yang mengguncang hingga ke level global. Ia adalah Hashim Djojohadikusumo. Kiprah adik kandung sang Presiden ini tidak sekadar “luar biasa”, melainkan lebih tepat disebut “ruar biasa”—sebuah plesetan yang menggambarkan totalitas tanpa batas, melampaui tugas resmi seorang pejabat biasa.

Hashim bukanlah pemain baru dalam catur politik nasional. Di Partai Gerakan Indonesia Raya (Gerindra), ia menduduki posisi strategis sebagai Wakil Ketua Dewan Pembina, tepat di sisi sang kakak. Namun, perannya jauh melampaui struktur formal. Ia adalah “penjaga gawang” sekaligus diplomat ulung bagi Prabowo. Uniknya, Hashim tidak duduk di kursi menteri dalam Kabinet Merah Putih. Namun, mandat yang diembannya sebagai Utusan Khusus Presiden kerap kali lebih berat dan krusial dibandingkan portofolio kementerian teknis sekalipun.

Hashim Djojohadikusumo memegang peran kunci yang sangat strategis, baik sebagai petinggi partai maupun sebagai diplomat khusus bagi Presiden Prabowo. Meskipun ia adalah adik kandung Presiden, ia tidak menjabat sebagai menteri dalam struktur kabinet, melainkan diberi mandat khusus untuk urusan diplomasi internasional.

Berikut adalah detail jabatan Hashim di Pemerintahan Prabowo:

Hashim ditunjuk langsung oleh Presiden untuk posisi yang berfokus pada diplomasi luar negeri dan isu global strategis:

  • Utusan Khusus Presiden (Special Envoy) Bidang Energi dan Lingkungan Hidup: Hashim bertugas menjadi perwakilan langsung Presiden Prabowo dalam negosiasi dan forum internasional terkait transisi energi dan perubahan iklim.
  • Ketua Delegasi Indonesia (Head of Delegation) untuk COP29: Ia memimpin delegasi RI pada Konferensi Perubahan Iklim PBB (COP29) di Baku, Azerbaijan, pada November 2024. Di forum ini, ia berperan krusial dalam menarik investasi hijau dan mempromosikan potensi kredit karbon Indonesia kepada dunia.

Bukti sahih dari “tangan dingin” Hashim adalah karier politik Dedi Mulyadi (KDM). Publik Jawa Barat kini mengenal KDM sebagai figur kuat yang diusung oleh Partai Gerindra. Namun, ada masa ketika KDM berada di titik nadir politik, terasing dari rumah lamanya dan kehilangan arah. Di momen kritis itulah Hashim hadir. Bukan dengan janji kosong, melainkan dengan tawaran konkret untuk bergabung ke Gerindra.

Hasilnya fenomenal. Perekrutan yang dilakukan Hashim menjadi fondasi bagi terbentuknya kekuatan politik raksasa di Jawa Barat. Tak tanggung-tanggung, KDM maju dengan dukungan penuh koalisi besar yang dimotori Gerindra dan Golkar. Gerbong pendukung pun semakin panjang dengan merapatnya Demokrat, PSI, PBB, Partai Ummat, Hanura, Perindo, PKN, PRIMA, Partai Garuda, Partai Gelora, hingga Partai Buruh. Insting Hashim terbukti tajam; ia menyelamatkan “aset” politik yang berharga, memberinya kendaraan tempur yang sangat kuat, dan menjadikannya ujung tombak kemenangan di tanah Pasundan.

Keluwesan Hashim juga menembus sekat-sekat kultural yang kaku. Ia rajin turun ke bawah, menyapa tokoh-tokoh “raja kecil” di daerah yang memiliki basis massa riil namun sering luput dari radar Jakarta. Salah satu manuvernya yang paling cerdas adalah saat ia menemui Haji Her (Haji Khairul Umam) di Pamekasan, Madura. Haji Her bukan sekadar pengusaha; ia adalah “Sultan Tembakau” yang memiliki pengaruh sosial raksasa di kalangan petani dan ulama Madura. Hashim duduk sama rendah, berdiskusi dan mendengar aspirasi langsung dari tokoh kunci tersebut. Pendekatan personal ini sukses mengamankan dukungan akar rumput yang solid tanpa perlu hiruk-pikuk kampanye yang berjarak.

Di level pemerintahan, taji Hashim semakin runcing. Ditunjuk sebagai Utusan Khusus Presiden untuk Energi dan Lingkungan Hidup serta Ketua Delegasi RI di COP29, ia membuktikan kelasnya. Di forum tersebut, Hasyim membawa pulang “oleh-oleh” diplomasi yang sangat konkret:

  • Pendanaan hijau €1,2 miliar dari KfW Jerman untuk proyek PLTA Pumped Storage dan jaringan transmisi listrik hijau.
  • Dana hibah €1,5 juta untuk studi kelayakan energi bersih.
  • Fasilitasi lima kerja sama strategis PLN dengan UKEF Inggris, Sembcorp Singapura, GEAPP, TGI, dan KfW.
  • Penawaran resmi 577 juta ton kredit karbon Indonesia ke pasar global, membuka potensi devisa baru bagi negara.

Pendekatan Hasyim sederhana: tidak datang untuk selfie diplomatik, tetapi untuk pulang membawa proyek, dana, fasilitas, dan peluang. Gaya kerja “jemput bola” ini kontras dengan pendekatan birokratis yang selama ini sering membuat diplomasi Indonesia tampak pasif.

Hashim juga menjadi wajah pemerintah yang inklusif. Pada Februari 2025, ia mewakili Presiden meresmikan Kuil Murugan di Jakarta Barat, hadir di tengah umat Hindu etnis Tamil dengan penuh penghormatan. Ini mengirimkan pesan kuat bahwa pemerintahan kakaknya adalah pemerintahan yang mengayomi semua golongan.

Pada akhirnya, sepak terjang Hashim Djojohadikusumo adalah definisi nyata dari loyalitas darah. Pepatah lama mengatakan blood is thicker than water (darah lebih kental daripada air), dan Hashim membuktikannya dalam setiap langkah. Ia membersihkan jalan yang terjal, merangkul kawan yang tercecer, dan mencari bekal logistik dari ujung dunia demi kesuksesan kepemimpinan sang kakak. Siapapun pemimpin negeri ini—atau siapapun kita—pasti akan merasa sangat terbantu dan beruntung jika memiliki adik sekelas Hashim Djojohadikusumo.

Visited 31 times, 1 visit(s) today