Bencana Banjir Bandang di Sumatera Adalah Pasti (Certainty), Tidak Usah Kaget Bos!

·

Wawancara Menteri: Dari Senyuman Tahun 2013 hingga Penyangkalan Deforestasi Tahun 2024

Ketika kita menengok kembali rekaman tahun 2013—sebuah cuplikan dokumenter Years of Living Dangerously—kita melihat seorang Menteri Kehutanan Indonesia, Zulkifli Hasan. Di sana, ia dipertanyakan tajam oleh Harrison Ford tentang penggundulan hutan hutan Tesso Nilo, Riau, ekspansi sawit, dan lenyapnya habitat alami. Yang paling diingat publik bukanlah jawabannya, tetapi senyum yang terekam ketika ia menanggapi isu yang dampaknya kini menjadi bencana nasional: hilangnya hutan Sumatera.

Kini, lebih dari satu dekade berlalu, narasi serupa kembali muncul dari pucuk kekuasaan. Pada 30 Desember 2024, Presiden Prabowo Subianto menyampaikan pernyataan yang mengejutkan publik dan para ahli lingkungan dalam forum Musrenbangnas: “Enggak usah takut deforestasi… kelapa sawit itu pohon, ada daunnya kan? Dia menyerap karbondioksida.” Pernyataan ini kembali memperlihatkan pola yang sama—penyangkalan struktural terhadap realitas ekologis.

Di atas kertas, sawit memang pohon. Namun secara ekologis, sawit bukan hutan. Tidak memiliki kanopi bertingkat, tidak mendukung biodiversitas, tidak menyerap air seperti hutan primer, dan tidak mampu mencegah longsor maupun banjir bandang. Sumatera kehilangan jaringannya, dan Indonesia kehilangan memori ekologisnya.

Ketika pejabat publik menyamakan monokultur sawit dengan hutan tropis, maka jelas: mereka tidak melihat hutan sebagai sistem hidrologis. Mereka melihatnya sebagai lahan produksi. Maka ketika Sumatera tumbang oleh air bah, kita tidak lagi bisa menyebutnya bencana alam—melainkan konsekuensi kebijakan.

Hutan yang Hilang, Risiko yang Naik

Banjir besar yang menerjang Aceh, Medan, Sibolga, hingga Padang pada akhir November 2025 bukanlah anomali. Bukan pula siklus alam. Ia adalah hasil dari akumulasi kebijakan yang mengabaikan sains dan membiarkan penebangan hutan berlangsung tanpa kendali.

Berita-berita dan video yang viral menunjukkan potongan kayu besar—gelondongan yang rapi, mulus, persis seperti hasil tebangan baru—mengalir bersama arus deras. Itu bukan dahan tua, bukan pula pohon lapuk. Kayu-kayu itu berbicara tentang tangan manusia. Alam memilih berkata jujur, sementara para pejabat tampak sibuk menutupi, meremehkan, atau pura-pura tidak melihat kenyataan yang sudah lama tersaji di depan mata.

Namun, dalam pernyataan resminya, pihak Kemenhut merespons bahwa kayu-kayu tersebut mungkin “pohon lapuk” (Kompas, 29 November 2025). Di sisi lain, investigasi media dan perhatian DPR menyoroti temuan ribuan potongan kayu yang memenuhi pantai dan sungai (Detik, Kompas, CNN), menunjukkan adanya ketidaksinkronan antara narasi pemerintah dan bukti lapangan.

Sumatera kehilangan hutan primer, kehilangan buffer ekologis, kehilangan kemampuan menyerap hujan. Maka banjir bandang bukan lagi jika—tetapi kapan.

Mengapa Banjir Bandang Sumatera Adalah Kepastian

Ada tiga alasan utama mengapa bencana ini bersifat pasti:

  1. Deforestasi masif tanpa pemulihan ekosistem
    Laju hilangnya hutan Sumatera masih tinggi, terutama untuk ekspansi sawit dan kayu. Reboisasi tidak memulihkan ekosistem asli.
  2. Struktur pemerintah yang menormalisasi penyangkalan ilmiah
    Dari menteri yang tertawa pada tahun 2013, hingga presiden yang menyebut sawit sebagai pohon yang “tidak masalah”, negara mengirim pesan yang sama: alam bisa dinegosiasikan.
  3. Infrastruktur drainase dan tata ruang yang tidak adaptif
    Kota-kota besar di Sumatera tumbuh di atas dataran banjir dan bekas lahan gambut. Tanpa hutan penyangga, air hanya mengikuti gravitasi.

Penutup: Kita Tidak Boleh Lagi Berpura-pura Kaget

Ketika banjir terjadi merata—dari Aceh hingga Padang—kita sering mendengar pejabat mengatakan, “Cuaca ekstrem,” “Iklim berubah,” “Bencana alam tak dapat diprediksi.” Padahal, dari video Harrison Ford tahun 2013 sampai pernyataan Presiden tahun 2024, benang merahnya terlihat jelas: negara tidak belajar.

Sumatera kini membayar harga dari keputusan jangka pendek yang diambil selama bertahun-tahun. Dan fakta paling menyedihkan adalah: bencana ini bukan takdir—melainkan desain yang disengaja.

Visited 79 times, 1 visit(s) today