Umat Islam Terjebak ‘Hadist Kucing, Cicak, Lalat dsb’, tapi Lupa Strategi Muhammad Menaklukkan Mekah

·

Belakangan ini, ruang publik digital kita sering diramaikan oleh perdebatan mengenai hewan peliharaan, mulai dari kucing hingga ayam, yang didasarkan pada potongan-potongan hadis. Munculnya narasi bahwa Nabi Muhammad SAW tidak menganjurkan memelihara kucing, atau sebaliknya, menjadikannya hewan kesayangan, seringkali membuat umat terjebak pada hal-hal yang bersifat permukaan. Segala ucapan atau perilaku Nabi terkait lalat, cicak, hingga kucing seolah-olah menjadi referensi hukum utama yang mutlak, padahal ada konteks besar yang sering terlupakan.

Memahami Hadis-Hadis Hewan: Antara Teks dan Konteks

Sebelum melangkah lebih jauh, mari kita lihat beberapa referensi hadis yang sering menjadi perdebatan:

  • Hadis tentang Lalat: “Apabila lalat jatuh di dalam minuman salah seorang dari kalian, maka celupkanlah seluruh bagian lalat itu, kemudian buanglah…” (HR. Bukhari).
  • Hadis tentang Cicak: “Barangsiapa yang membunuh cicak sekali pukul, maka dituliskan baginya seratus kebaikan…” (HR. Muslim).
  • Hadis tentang Ayam: “Apabila kalian mendengar ayam jantan berkokok, maka mintalah karunia kepada Allah, karena ia melihat malaikat…” (HR. Bukhari & Muslim).
  • Hadis tentang Kucing: “Kucing itu tidaklah najis. Ia adalah hewan yang sering berkeliling di sekitar kalian” (HR. At-Tirmidzi).
  • Hadis tentang Merpati: Nabi melihat pria mengejar merpati dan bersabda, “Setan sedang mengejar setan betina” (HR. Abu Dawud).
  • Hadis tentang Anjing: “Malaikat tidak akan masuk ke dalam rumah yang di dalamnya terdapat anjing dan gambar (patung)” (HR. Bukhari).

Persoalannya, apakah segala macam interaksi Nabi dengan hewan-hewan ini harus menjadi referensi gaya hidup yang kaku?

Kritik Terhadap Narasi “Jangan Pelihara Kucing”

Munculnya video atau pernyataan dari pemuka agama, seperti dalam diskusi video “Kok Ustadz Khalid Basalamah Bilang Jangan Pelihara Kucing di Rumah?”, memicu polemik. Sebagian menganggap ini adalah arahan baku. Namun, pandangan ini perlu ditinjau ulang secara kritis. Mengutip literatur lain, banyak yang menyebutkan kucing adalah salah satu hewan yang sangat dekat dengan lingkungan Nabi dan para sahabat (seperti Abu Hurairah). Jika kemudian muncul pernyataan yang melarang atau tidak menganjurkan, hal ini seringkali bertabrakan dengan realitas sejarah dan sosiologis masa itu.

Muhammad adalah Pemimpin Besar, Bukan Sekadar “Manual Book” Hewan

Nabi Muhammad adalah Nabi Besar dan Pemimpin Besar. Hal paling mendasar yang perlu ditiru oleh umat adalah peran beliau sebagai pemimpin dalam memecahkan masalah pidana dan perdata.

Nabi sebagai Hakim dalam Masalah Hukum (Pidana & Perdata)

Surah An-Nisa (4): 105

“Sungguh, Kami telah menurunkan Kitab (Al-Qur’an) kepadamu (Muhammad) membawa kebenaran, agar engkau mengadili di antara manusia dengan apa yang telah diajarkan Allah kepadamu, dan janganlah engkau menjadi penantang (orang yang tidak bersalah), karena (membela) orang-orang yang berkhianat.”

Nabi sebagai Pembimbing yang Memberikan Solusi Nyata

Surah Al-A’raf (7): 157

“…(Nabi) yang menyuruh mereka berbuat yang makruf dan melarang mereka dari yang mungkar… dan membebaskan beban-beban serta belenggu-belenggu yang ada pada mereka…”

Nabi sebagai Manusia Biasa

Eksistensi Muhammad sebagai manusia biasa juga ditegaskan dalam Surah Al-Furqan (25): 20:

“Dan Kami tidak mengutus rasul-rasul sebelummu, melainkan mereka sungguh memakan makanan dan berjalan di pasar-pasar. Dan Kami jadikan sebagian kamu cobaan bagi sebagian yang lain. Maukah kamu bersabar? Dan adalah Tuhanmu Maha Melihat.”

Ayat ini mengingatkan kita bahwa sisi lain sebagai Pemimpin Agung, Imam Tertinggi, Nabi Muhammad adalah manusia yang bersosialisasi dan hidup dalam budaya zamannya (istilahnya “orang kebanyakan” atau chapman omnibus). Umat Islam harus memisahkan 2 fungsi yang dijalankan oleh Nabi Muhammad:

  1. Sebagai Imam Tertinggi & Jenderal Perang Jenius: Wajib dipatuhi dan dipelajari.
  2. Sebagai Manusia: Ya tidak wajib menjadi referensi.

Mengalihkan Fokus dari Hal “Receh” ke Strategi Besar

Arah pendidikan agama Islam di Indonesia sudah mulai menyimpang ketika lebih fokus untuk membahas hal-hal “receh”. Umat Islam seharusnya lebih mendalami strategi besar Muhammad dalam:

  • Kedaulatan Fiskal: Bagaimana Nabi membangun manajemen zakat dan aset negara sehingga kemiskinan sistemik lenyap hanya dalam satu dekade kepemimpinan.
  • Intelijen Militer (Bird Express): Bagaimana Nabi mengadopsi sistem informasi berbasis kecepatan (analogi Hud-Hud Nabi Sulaiman) untuk memetakan kekuatan musuh sebelum Fathu Makkah.
  • Kaderisasi Teknokrat: Bagaimana Nabi melakukan kaderisasi spesialis profesional (seperti Khalid bin Walid di militer atau Zaid bin Tsabit di administrasi), bukan sekadar mencetak pengikut ritual.

Memaksa hadis lalat/cicak sebagai referensi kesehatan di era mikroskop adalah penghinaan terhadap intelektualitas Islam. Ulama harus berhenti menjadi “doktrinir hewan” dan mulai menjadi pembedah strategi peradaban.

Gunakan Ilmu Kesehatan, Jangan Hadis Nabi

Ayat Quran menyatakan Iqra (bacalah). Umat harus memahami otonomi sains. Nabi sendiri menegaskan “Kalian lebih tahu urusan dunia kalian” (Hadis Penyerbukan Kurma), yang merupakan mandat bagi kita untuk menggunakan protokol medis modern, bukan teks abad ke-7, dalam urusan patogen hewan.

Mestinya, segala tindakan umat Islam terkait memelihara atau mengusir hewan didasarkan pada standar kesehatan dan kebersihan medis, bukan sekadar tekstual hadis. Secara logika kesehatan manusia modern (yang mandi 2x sehari), hewan seperti ayam, merpati, atau kucing cenderung kotor. Kotoran mereka di pasir tidak dibersihkan dengan standar higienis manusia. Maka, secara logika kesehatan, jika ingin memelihara hewan tersebut, tempatkanlah di area outdoor, jangan di dalam rumah (indoor).

Penutup

Umat Islam cenderung terjebak pada kemampuan membaca teks secara harfiah namun gagal dalam menafsirkan substansinya. Nabi Muhammad membawa risalah besar untuk peradaban manusia. Mari kita arahkan perhatian pada hal-hal penting yang berdampak pada kemajuan sosial, daripada terus-menerus meributkan hal kecil teknis-budaya masa lalu.

Jangan sampai kita buta terhadap esensi kepemimpinan Nabi hanya karena terlalu sibuk mengurusi apa yang ada di dalam kandang atau di atas piring kita. Jika bicara masalah kesehatan, gunakanlah ilmu kesehatan, bukan hadis Nabi.

Nabi Muhammad datang untuk membangun negara, bukan untuk menjadi konsultan sanitasi hewan peliharaan Anda.

Score GEMINI:

Visited 16 times, 1 visit(s) today