PERANG SAUDARA CHOLA DI SELAT MALAKA: MEMBACA ULANG SERANGAN 1025 SEBAGAI KONFLIK CHOLA MURNI VS CHOLA PERANAKAN DI SRIWIJAYA

·

Oleh: GHAILAN IRGH

Narasi resmi buku pelajaran kita selalu sederhana: Pada tahun 1025 M, Rajendra Chola I dari India Selatan datang menyerang Sriwijaya. Ini dianggap sebagai invasi asing pertama di Nusantara, bukti kehebatan armada India.

Tapi ada yang janggal.

Jika ini adalah invasi asing total, kenapa nama raja yang diserang terdengar sangat India? Dan kenapa setelah membakar Sriwijaya, Chola tidak mendirikan koloni seperti Inggris di Singapura?

Hipotesis saya: Serangan 1025 bukan invasi asing vs pribumi. Itu adalah perang saudara. Perang antara Chola Murni dari Tanjore melawan Chola Peranakan yang sudah berkuasa 200 tahun di Sriwijaya.

1. Sanskritisasi Tahap 1: Sriwijaya Sudah Bukan Melayu Murni Sejak Abad ke-7

Kita sering membayangkan Sriwijaya sebagai kerajaan Melayu komunal yang guyub, duduk sama rendah. Prasasti-prasasti membantah itu.

Sejak abad ke-7, para penguasanya memakai gelar:

  • Dapunta Hyang Sri Jayanasa
  • Rudravarman, Vijayavarman
  • Sang Rama Vijayottunggavarman

Gelar -varman, -deva, dan Sri bukanlah kosakata dusun Melayu. Itu adalah gelar ksatria Kalingga-Pallava-Chola.

Artinya, jauh sebelum Rajendra Chola datang, elit Sriwijaya sudah merupakan hasil perkawinan campur antara pedagang dan petualang India Selatan dengan bangsawan lokal Kedah-Malayu.

Ini adalah Sanskritisasi Tahap 1. Rakyat di desa mungkin masih egaliter, tapi di pelabuhan dan istana, sudah ada oligarki blasteran yang mengontrol tol Selat Malaka. Mereka butuh gelar India untuk membedakan diri dari rakyat biasa dan untuk dapat diakui oleh jaringan perdagangan internasional dari Gujarat sampai Tiongkok.

Jadi ketika Rajendra Chola I berlayar pada 1025, dia tidak sedang menyerang “orang asing”. Dia sedang menyerang cabang keluarganya sendiri yang sudah terlalu kaya dan terlalu mandiri.

2. Bukti Kunci: Siapa yang Dibunuh di Tahun 1025?

Prasasti Tanjore di India — sumber utama kita untuk peristiwa 1025 — mencatat dengan bangga bahwa Rajendra menaklukkan:

Kadaram, Pannai, Malaiyur, Ilangasogam, Mayirudingam, dan Sangrama Vijayottunggavarman, raja Kadaram.

Mari bedah nama terakhir itu: Sangrama Vijayottunggavarman.

Vijaya = Kemenangan. Tungga = Tinggi. Varman = Pelindung Ksatria.

Ini adalah format penamaan Chola tulen. Sama seperti Rajendra Chola I, Rajaraja Chola I. Jika musuhnya adalah raja Melayu murni, kita akan mengharapkan nama seperti Datuk atau Laksamana. Tapi tidak. Nama musuh dan nama penyerang berasal dari kamus yang sama.

Ini adalah ciri khas perang saudara dinasti dalam sejarah dunia: Dinasti Tang vs panglima Tang yang memberontak, atau Demak vs Pajang yang masih sama-sama keturunan Brawijaya. Musuh memakai gelar yang sama karena mereka memperebutkan legitimasi yang sama.

3. Kejanggalan yang Menjadi Petunjuk: Kenapa Tidak Ada Koloni Chola?

Inilah pertanyaan yang jarang ditanyakan sejarawan kolonial: Jika Chola menang telak di 1025, kenapa mereka pulang?

Bangsa Eropa kalau sudah menghancurkan Malaka 1511, mereka tinggal dan bikin benteng. Chola tidak. Setelah merampas kekayaan, mereka kembali ke Tanjore.

Jawabannya menjadi masuk akal jika ini adalah perang saudara oligarki.

Tujuan Rajendra bukan untuk menjajah wilayah dan mengajari penduduk bercocok tanam. Tujuannya adalah hostile takeover. Ambil alih manajemen puncak. Singkirkan CEO cabang Sriwijaya yang sudah tidak setor upeti dan memonopoli pajak Selat Malaka, ganti dengan manajer yang loyal ke Tanjore, tapi biarkan jaringan perdagangan Tamil-Kling di Kedah dan Barus tetap berjalan.

Rakyat jelata di desa-desa Sumatra tidak diganti. Yang diganti hanya siapa yang duduk di kursi syahbandar dan siapa yang berhak memakai gelar -varman.

Visited 3 times, 1 visit(s) today